Upaya mendorong penguatan ekonomi masyarakat di wilayah penghasil minyak dan gas bumi (migas) terus dilakukan oleh FITRA Riau. Setelah melaksanakan sosialisasi awal, FITRA Riau kembali turun langsung ke lapangan melalui kegiatan pemetaan potensi ekonomi dan pembentukan kelompok perempuan yang dilaksanakan pada 05–07 Mei 2026 di tiga desa sasaran, yakni Desa Sungai Nibung, Desa Bathin Sobanga, dan Desa Muara Basung.
Program ini merupakan bagian dari upaya penguatan ekonomi masyarakat desa di sekitar wilayah operasi migas yang selama ini dinilai belum sepenuhnya merasakan dampak kesejahteraan secara optimal. Dalam kegiatan tersebut, perempuan ditempatkan sebagai aktor penting dalam pembangunan ekonomi lokal karena dinilai memiliki peran strategis dalam menopang ekonomi keluarga maupun pengembangan usaha produktif desa.
Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan pemerintah desa, kelompok perempuan, PKK, Posyandu, Kelompok Wanita Tani (KWT), kelompok usaha masyarakat, hingga tokoh masyarakat setempat. Selain menggali potensi ekonomi lokal, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dalam pengembangan usaha mereka.
Pemetaan Potensi Desa Sungai Nibung

Kegiatan di Desa Sungai Nibung dilaksanakan pada 05 Mei 2026 dengan melibatkan kelompok perempuan yang berasal dari lima dusun, yakni Dusun Sumber Asri, Dusun Sinar Harapan, Dusun Harapan Jaya, Dusun Mekar Jaya, dan Dusun Sungai Bakung. Dari hasil diskusi dan pemetaan, desa ini memiliki potensi ekonomi yang cukup beragam dan sebagian telah berkembang menjadi usaha rumah tangga masyarakat.
Beberapa potensi utama desa meliputi komoditas singkong, lidi sawit, hasil perikanan berupa ikan salai baung sungai, usaha jamu tradisional, serta keterampilan jahit dan bordir. Di sektor UMKM, masyarakat telah mengembangkan berbagai usaha seperti usaha rengginang singkong, usaha makanan ringan, laundry, usaha telur asin berbasis ternak bebek, hingga kelompok batik dengan motif khas “Nibung” yang beranggotakan delapan orang. Selain itu, usaha jamu tradisional masyarakat diketahui telah dipasarkan hingga ke Desa Sabak Auh. Potensi ini dinilai cukup menjanjikan apabila mendapatkan dukungan penguatan kapasitas dan akses pasar yang lebih luas.
Namun demikian, masyarakat juga menyampaikan sejumlah kendala yang selama ini dihadapi, di antaranya keterbatasan pemasaran produk, kesulitan memperoleh bahan baku tertentu, serta minimnya alat produksi seperti alat peraut lidi sawit. Masyarakat juga mengharapkan adanya pelatihan kewirausahaan, manajemen usaha, serta pendampingan legalitas usaha untuk memperkuat keberlanjutan usaha mereka.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, masyarakat sepakat membentuk kelompok perempuan baru bernama “Perempuan Peduli dan Berdaya Nibung Lestari” yang bergerak pada bidang pertanian palawija dengan fokus usaha pada ubi kayu, kunyit, dan tanaman palawija lainnya yang masih dalam tahap pengembangan komoditas. Kelompok ini memiliki lahan sekitar satu hektare dan melibatkan sebanyak 30 anggota perempuan. Struktur kepengurusan kelompok terdiri dari Ibu Devi Betawati sebagai ketua, Ibu Lili sebagai sekretaris, dan Ibu Rina Saputri sebagai bendahara.
Potensi Ekonomi dan Kelompok Perempuan Desa Bathin Sobanga

Kegiatan pemetaan di Desa Bathin Sobanga dilaksanakan bersama perwakilan kelompok wirid, PKK, dan Posyandu. Dalam diskusi yang berlangsung, masyarakat mengidentifikasi sejumlah potensi ekonomi desa yang selama ini telah menjadi sumber penghasilan masyarakat.
Potensi utama desa berada pada sektor pertanian dan olahan pangan, seperti pepaya, ubi kayu, jagung, kacang panjang, dan timun. Beberapa produk usaha masyarakat yang telah berkembang di antaranya keripik singkong yang memanfaatkan bahan baku lokal serta usaha air minum rebus yang dipasarkan kepada masyarakat sekitar desa.
Meskipun memiliki potensi bahan baku yang cukup melimpah, masyarakat mengaku masih mengalami kendala pada aspek pemasaran produk yang saat ini hanya dipasarkan di warung desa. Selain itu, keterbatasan modal usaha juga menjadi hambatan utama dalam pengembangan usaha masyarakat.
Dalam proses diskusi, masyarakat perempuan Desa Bathin Sobanga juga menyampaikan adanya potensi keterampilan menjahit dan bordir yang dimiliki oleh sebagian ibu-ibu desa. Potensi ini dinilai memiliki peluang ekonomi yang baik apabila dikembangkan secara berkelompok dan mendapatkan dukungan pelatihan maupun peralatan usaha.
Atas dasar tersebut, masyarakat sepakat membentuk kelompok perempuan “Bunga Lestari Maju Bathin Sobanga” yang fokus pada bidang usaha menjahit dan bordir. Kelompok ini dirancang sebagai wadah pemberdayaan perempuan desa agar lebih produktif dan mandiri secara ekonomi dengan jumlah anggota maksimal sebanyak 20 orang. Struktur kepengurusan kelompok terdiri dari Ibu Sugiarsih sebagai ketua, Ibu Sari sebagai sekretaris, dan Ibu Erna sebagai bendahara.
Pengembangan Produk Hortikultura di Desa Muara Basung

Di Desa Muara Basung, kegiatan pemetaan dilakukan bersama Kelompok Wanita Tani (KWT), Posyandu, dan kelompok perempuan lainnya. Desa ini memiliki potensi pertanian hortikultura yang cukup besar dan telah dikelola masyarakat melalui berbagai kegiatan budidaya tanaman.
Beberapa komoditas unggulan yang dikembangkan masyarakat antara lain labu madu, cabai, bayam, dan terong. Masyarakat juga telah mengembangkan pembibitan cabai dan bibit terong dengan memanfaatkan lahan pertanian berukuran 6 x 5 meter hingga 20 x 20 meter, termasuk pemanfaatan lahan pekarangan rumah.
Hasil budidaya tersebut telah diolah menjadi berbagai produk makanan seperti keripik labu madu dan bolu berbahan dasar labu madu. Selain produk pangan, masyarakat juga mulai menggagas pengembangan produk herbal berupa kapsul berbahan dasar seledri, jahe hitam, dan kunyit yang dinilai memiliki potensi pasar cukup baik.
Sebelumnya, kelompok perempuan di desa ini juga telah mengikuti berbagai pelatihan keterampilan seperti pelatihan memasak, membuat payet, dan membuat buket. Hal ini menunjukkan adanya modal sosial dan keterampilan dasar yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi usaha ekonomi produktif masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat sepakat membentuk kelompok perempuan “Muara Bertuah” yang akan fokus pada pengembangan produk olahan labu madu dan produk turunan hortikultura lainnya. Struktur kepengurusan kelompok terdiri dari Ibu Wili sebagai ketua, Ibu Suryani sebagai bendahara, dan Nurya Ningsih sebagai sekretaris.
Komitmen Pendampingan dan Penguatan Kapasitas
Deputi FITRA Riau, Gusmansyah, menyampaikan bahwa kegiatan pemetaan dan pembentukan kelompok perempuan ini merupakan langkah awal dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa di wilayah migas. Menurutnya, perempuan memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal apabila diberikan ruang, penguatan kapasitas, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Melalui Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang telah disusun bersama masyarakat, FITRA Riau berkomitmen melakukan pendampingan kelompok selama satu tahun ke depan. Pendampingan tersebut akan difokuskan pada penguatan manajemen usaha, pelatihan kewirausahaan, peningkatan kapasitas produksi, pengurusan legalitas usaha, hingga pengembangan akses pemasaran produk masyarakat.
Program ini diharapkan mampu memperkuat ekonomi perempuan desa, menciptakan usaha produktif berbasis potensi lokal, serta mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat di wilayah penghasil migas Kabupaten Bengkalis.










