“Membiarkan” BANSOS Dikorupsi

“Membiarkan” BANSOS Dikorupsi

dana bansosPANDANGAN bahwa dana bantuan sosial dan hibah menjadi salah satu “ceruk” uang rakyat yang paling gampang dijarah bukan isapan jempol. Berbagai penemuan penyimpangan hasil dari upaya pemberantasan korupsi yang terus digalakkan selama ini membuktikan kedua alokasi anggaran itu tak lagi layak untuk dipertahankan.

Anggaran yang semestinya digunakan untuk seluas-luasnya kesejahteraan rakyat itu, justru dibelokkan dengan berbagai modus operandi, semata-mata untuk menggemukkan pundi-pundi kekayaan pribadi dan kelompok tertentu. Anehnya, pemerintah daerah terus memberikan ruang dan justru alokasi anggarannya terus diperbesar tanpa memperbaiki mekanisme dan pengawasan yang optimal.

Pemerintah seakan tidak pernah belajar dari pengalaman yang ada. Padahal temuan penyelewengan anggaran bantuan sosial dan dana hibah terus mewarnai laporan pemeriksaan keuangan dan menambah catatan buruk pengelolaan keuangan daerah terjadi hampir setiap tahun. Laporan Hasil Periksaan (LHP) BPK RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2011 se Provinsi Riau, ditemukan sedikitnya Rp. 109.02 miliyar penyaluran dana bansos yang berpotensi diselewengkan. Catatan buruk pengelolaan dana bansos dan hibah diperparah tahun 2012, dimana tahun itu temuan potensi penyelewengan kedua alokasi dana itu meningkat menjadi Rp. 155,02 miliyar atau meningkat 43 persen dari tahun 2011 lalu.

FITRA Riau mengungkapan, dari hasil penelusuran penerima bantuan sosial dan dana hibah kepada organisasi masyarakat diberbagai bidang yang terdaftar dalam APBD Provinsi Riau tahun 2013 sedikitnya ditemuakan Rp. 31,4 miliyar dialokasikan kepada lembaga fiktif. Temuan itu menjadi salah satu dasar Judicial Review ke MA untuk membatalkan APBD Riau tahun 2013.

Berbagai modus pembobolan bansos dan dana hibah dilakukan khususnya yang disalurkan kepada organisasi masyarakat diberbagai bidang dilakukan. Mulai dari mengajukan proposal fiktif, penerima tidak melaporkan penggunaan anggaran serta bagi-bagi jatah pasca pencairan anggaran. Temuan lainnya yang cukup mengagetkan, terjadi di Kota Pekanbaru, terdapat 1293 proposal bantuan bansos yang diajukan oleh 32 orang broker.

Upaya penegakan hukum untuk mengusut kasus penyelewengan bansos dan hibah di Riau sudah mulai dilakukan. Menjadi kasus perdana terkait bansos yang ditemukan oleh Polda Riau baru baru ini di Kabupaten Bengkalis ditemukan Rp. 230 miliyar tahun 2011 yang diselewengkan. Bahkan penetapatan mantan anggota DPRD Bengkalis tahun 2009-2014 yang ditetapkan sebagai tersangka bulan juni lalu memperkuat bukti bansos menjadi bancakan oleh elit partai politik yang telah didengungkan sejak lama.

Namun, upaya penegakan hukum saja tidak cukup. Kesulitan mencari pembuktian penyelewengan dana bansos itu juga menjadi persolan penegak hukum. Seperti kasus bansos kota pekanbaru tahun 2012, dengan dalih tidak ada bukti yang kuat sehingga Kejari memberhentikan kasus bansos Rp. 9 miliyar yang diduga diselewengkan oleh partai politik tertentu meskipun sudah menetapkan tersangka.

Selama ini, penyaluran bansos khusunya kepada kelompok masyarakat dan lembaga organisasi masyarakat dengan nilai ratusan miliyar itu nyaris tanpa tujuan dan indikator keberhasilan yang jelas serta pengawasan lapangan yang maksimal. Pemerintah juga tidak slektif dalam menverifikasi lembaga – lembaga penerima dengan demikian akan sangat mudah para pembobol menjarah uang rakyat. Oleh karena itu, pengurangan anggaran dan perbaikan sistem tata kelola dana bansos hibah secara konfrehensif penting dan harus dilakukan oleh pemerintah daerah ke depan. Transparansi atas penyaluran dana bansos sampai kepada nama-nama penerima kepada masyarakat luas harus dilakukan, agar masyarakat dapat turut serta mengawasi. Dengan tidak melakukan perbaikan sistem serta memperkuat pengawasan, berarti pemerintah daerah membiarkan dana bansos dan hibah dikorupsi.**

 

Pekanbaru, 12 Juni 2014

FITRA Riau

 

Klik PDF Version

1,056 total views, 1 views today

Let's Share...Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someoneShare on LinkedIn
Share